Menjadi seorang pendidik menjadi idola bagi beberapa generasi muda. Pandangan ini sekilas memang indah. Dibalik keindahan tersebut tersimpan sejuta teka-teki dan liku-liku seorang pendidik. Guru digugu dan ditiru. Istilah yang luar biasa maknanya. Guru segala tindak tanduk, perkataan, harus dijaga dan ditata supaya anak didik bisa mencontoh terutama bisalah jadi panutan anak-anak dan di lingkungannya.
Betapa indahnya jadi gu......ru . Tapi betapa ironisnya sekarang ini. Bila melihat sepak terjang guru yang sudah dinyatakan profisional dan yang belum profesional hanya dilhat sebatas ukuran sertifikasi. Sertifikasi ternyata banyak juga membuat guru yang tak profesional seperti yang telah dijadikan tolok ukur. Banyaknya kenyataan dari kaum kita sendiri sebagai pendidik yang berlindung dibalik baju pendidik. Karena tugas utama tak dikerjakan dengan berbagai dalilnya untuk menghindar mengerjakan tugas pribadi yang dijadikan objek sampingan. Bila kita kuak lebih dalam menjadi dilema yang luar biasa .
Terhindar dari semua itu kita sebagai pengajar yang kebetulan memegang mata pelajaran yang diUNASKAN sedikit banyak terbebani, terutama pada saat-saat seperti ini. Saat mendekati UN dilaksanakan. Banyak diantara kita sendiri sebagai pendidik seolah-olah menutup sebelah mata kita, biarkan itu menjadi tanggungjawab yang mengajar UN itu sendiri. Mendengar celotehan atau canda gaya tawa ini menjadi meringis, menangis. Betapa berat tanggung jawab yang harus diembannya. Tolok ukur yang dipakai menentukan keberhasilan siswa selama ini adalah bila siwa dinyatakan lulus, karena lulus dari patokan standar nilai minimal unas. Dari sinilah muncul beban yang luar biasa. Orang tua menuntut anaknya harus lulus. Anak merasa bahwa dia sudah sekolah selama tiga tahun, pasti nanti dapat diluluskan.
Bapak dan ibu guru sebagai OEMAR BAKRIE, yang mengajar mata pelajaran unas mulai empot-empotan untuk menggenjot anak-anak tercinta agar dapat sukses menghadapi UN nantinya. Tapi bagaimana dengan anak-anak yang mempunyai catatan sekolah jauh dari jangkauan fasilitas, dan orang tua yang kurang memperhatikan pendidikan anak? Saran-saran, nasehat-nasehat beribu-ribu umpan persiapan unas diberikan sampai habis peluh ditubuh ini, tapi pada kenyataan begitu un datang.... . Nah itu nah ... tugas guru yang baru. Tugas guru yang baru apa tugas guru baru? Dibantuin salah, tak dibantuin salah. Dapatlah kita buah simalaka. Dimakan bapak mati tak dimakan emaknya mati.
Aduh ....aduh betapa beratnya menyangga tiang ini supaya tak jatuh gedebuuuuk. Guru tersenyum melihat siswa dinyatakan lulus bersorak horeeee ... ulun lulus, menangis bila melihat yang menangis bahkan tak sadarkan diri. Setelah itu terdengar dari dalam sayup- sayup suara gooooblook tak pecus, percuma tiga tahun belajar ternyata tak lulus karena UN yang hanya beberapa pelajaran saja. Goooblook lagi gurunya siapa sih yang ngajarin ini? Maaf kalau ini agak kasar dan terlalu terbuka. tapi inilah kenyataan yang ada dilapangan sebenaranya.
Gigit jarilah kita sebagai pendidik, yang menjadi pertanyaan saya sampai saat ini, apakah guru yang berhasil hanya dilihat dari jumlah siswanya yang telah dinyatakan lulus itu 100%. Bila ada beberapa siswa yang tak lulus berarti gurunya goblok. Dimana sekarang letak ukuran keberhasilan oemar bakrie. Inilah beban yang terberat bagi kita sebagai pengajar mata pelajaran yang kebetulan harus diUNkan. Ya semoga yang dtugaskan pada kita yang berat aan menjadi lebih ringan bila kita ihklas dan dirhoi oleh-Nya. Sukses selalu untuk bapak ibu guru yang memegang mata pelajaran yang di UN kan. Suksessss amin.
Rabu, 01 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar